Bandara KASA Situbondo, Dirancang Multifungsi untuk Kemanusiaan
Bandara KHR As'ad Syamsul Arifin (KASA) Situbondo hadir dengan runway 2.500 meter. Siap layani pesawat Airbus, misi kemanusiaan, hingga penerbangan sipil.
SITUBONDO – Peta kekuatan infrastruktur udara di gerbang timur Pulau Jawa tengah mengalami transformasi signifikan. Pembangunan Bandara KHR As'ad Syamsul Arifin (KASA) di kawasan Pantai Banongan, Asembagus, Situbondo, kini memasuki fase krusial. Bukan sekadar instalasi pertahanan, Bandara KASA ini diproyeksikan menjadi hub multifungsi yang memadukan kekuatan militer dengan konektivitas sipil.
Sejak akselerasi konstruksi dimulai pada Desember 2025, fokus utama terletak pada pematangan landasan pacu (runway). Sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan kucuran dana pusat mencapai Rp1,7 triliun, Bandara KASA membawa spesifikasi teknis yang melampaui standar bandara rintisan pada umumnya.
Dari Airbus hingga Misi Kemanusiaan
Aspek teknis paling menonjol dari Bandara KASA adalah bentang runway sepanjang 2.500 meter. Dalam dunia aviasi, dimensi ini merupakan ambang batas krusial yang memungkinkan pesawat berbadan lebar (wide body) seperti keluarga Airbus A320 hingga Boeing 737 series untuk mendarat dan lepas landas dengan beban optimal.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menegaskan bahwa pemilihan spesifikasi ini adalah langkah visioner untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan di masa depan.
"Kami mendorong agar infrastruktur ini memiliki fungsi ganda (dual-use). Dengan landasan 2.500 meter, potensi operasionalnya sangat luas, mulai dari penerbangan sipil reguler, logistik kebencanaan, hingga layanan haji dan umrah langsung dari Situbondo," ujar Bupati Rio.
Integrasi Pertahanan dan Konektivitas Sipil
Dibangun di atas lahan seluas 306 hektar, Bandara KASA dirancang dengan standar teknis Kementerian Pertahanan namun tetap ramah terhadap protokol penerbangan komersial. Kolonel Moh. Tajuddin dari Puskon Baloghan Kemenhan menjelaskan bahwa rancang bangun bandara ini telah mempertimbangkan aspek multifungsi.
Secara teknis, ketebalan dan daya dukung landasan (Pavement Classification Number) disesuaikan untuk frekuensi tinggi pesawat militer berat, yang secara otomatis memberikan ketahanan ekstra untuk penggunaan sipil jangka panjang. Strategi ini diharapkan mampu memangkas kesenjangan logistik di wilayah timur Jawa Timur.
Dampak Ekonomi dan Pemberdayaan Lokal
Proyek ini tidak hanya menjadi monumen beton. Keterlibatan ratusan pekerja lokal dalam pembangunan fisik sejak akhir tahun lalu membuktikan adanya multiplier effect ekonomi. Kehadiran bandara ini diprediksi akan mengubah lanskap ekonomi Asembagus dan sekitarnya, menjadikan Situbondo sebagai titik transit strategis di antara jalur darat Pantura dan jalur udara nasional.
Dengan progres yang terus dipantau ketat oleh Kemenhan RI, Bandara KHR As'ad Syamsul Arifin bersiap menjadi pilar baru yang memperkuat kedaulatan udara sekaligus menggerakkan roda ekonomi kerakyatan melalui aksesibilitas yang lebih terbuka. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




