Refleksi Putra Daerah tentang Setahun Mas Rio Memimpin Situbondo
Setahun sudah Yusuf Rio Wahyu Prayogo memimpin Kabupaten Situbondo. Bagi sebagian orang, satu tahun mungkin terlalu singkat untuk menakar arah kepemimpinannya.
SITUBONDO – Setahun sudah Yusuf Rio Wahyu Prayogo memimpin Kabupaten Situbondo. Bagi sebagian orang, satu tahun mungkin terlalu singkat untuk menakar arah kepemimpinannya. Namun bagi Hari Wibowo, putra daerah asal Desa Pokaan, Kecamatan Kapongan, momentum ini cukup untuk membaca konsistensi niat dan arah pengabdian.
Hari Wibowo bukan nama asing di kalangan pegiat literasi Situbondo. Lahir dan besar di daerah pesisir utara itu, Hari pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo, sebelum melanjutkan studi di FISIP Universitas Jember.
Kini dia aktif di komunitas Gerakan Situbondo Membaca (GSM). Dengan latar belakang santri dan akademisi ilmu sosial, refleksinya terhadap kepemimpinan Mas Rio, sapaan kondang Bupati Situbondo itu, terasa personal sekaligus kritis.
Hari mengawali ceritanya dengan sebuah kenangan pada 2023, jauh sebelum pelantikan. Dalam sebuah perjalanan di kawasan Senayan, Jakarta, dia sempat berbincang langsung dengan Mas Rio. Di tengah kemacetan ibu kota, terlontar satu kalimat yang hingga kini terus dia ingat.
“Buat apa jadi Bupati Situbondo? Kalau motivasinya cari uang, mending saya tidak maju,” kenang Hari, menirukan cetusan Mas Rio, Jumat (20/2/2026).
Mendengar kalimat itu, Hari seperti banyak orang lain, menyimpan kecurigaan terhadap politik bahwa setiap pencalonan pasti menyimpan kalkulasi tersembunyi. Namun, saat mengucapkan kalimat itu, nada suara Mas Rio terdengar datar.
Kini, setahun setelah Mas Rio resmi memimpin Situbondo, kalimat itu kembali ia renungkan. Bagi Hari, kekuasaan selalu memiliki godaan: fasilitas, akses, dan pengaruh. Tidak semua orang mampu menjalaninya tanpa terseret arus.
Hari menilai, latar belakang Mas Rio yang sebelumnya dikenal sebagai pendiri Politika Research and Consulting, sebuah lembaga survei dan konsultasi politik, membuatnya datang ke pemerintahan bukan dari titik nol.
“Secara pribadi, beliau sudah mapan. Barangkali karena itu, ia (Mas Rio) tampak tidak tergesa-gesa memanen simbol. Dalam setahun ini, ia lebih sering terdengar berbicara tentang konsolidasi ketimbang selebrasi,” ujarnya.
Hari mengenang, di dalam mobil menuju Senayan itu, Mas Rio pernah mengatakan hanya akan mencalonkan Bupati Situbondo jika PKB dan PPP bersatu. Sebuah syarat yang terdengar Hari politis, tapi sesungguhnya kultural.
Di Situbondo, dua partai itu bukan sekadar kendaraan elektoral. Mereka adalah simpul sejarah. PKB berpatron pada KHR. Kholil Asad Syamsul Arifin, PPP lekat dengan kharisma Almarhum KHR. Fawaid Asad Syamsul Arifin.
Keduanya bersumber dari satu mata air yaitu KHR. Asad Syamsul Arifin, ulama kharismatik yang namanya melintasi batas kabupaten. Dari rahim pesantren itulah kultur politik santri bertumbuh.
Namun dua dekade terakhir, sejarah kerap berjalan dengan cara yang ganjil. Akar yang sama tak selalu melahirkan arah yang sama.
Polarisasi menjadi cerita berulang. Pilkada tak sekadar memilih pemimpin, tapi kadang memisahkan percakapan di serambi masjid dan meja warung kopi.
Menurut Hari, Mas Rio tampaknya membaca itu sebagai luka yang tak terlihat, tapi terasa. Dalam beberapa kesempatan, Mas Rio lebih sering menekankan stabilitas sosial sebagai prasyarat pembangunan. Orang nomor satu di jajaran Pemkab Situbondo itu seolah percaya, jalan yang mulus tak cukup tanpa hati yang teduh.
Pembangunan infrastruktur berjalan, tentu. Program pelayanan publik diperbaiki. Tapi yang lebih menarik bagi Hari adalah upayanya merawat simbol kebersamaan.
Setahun memimpin Situbondo, Mas Rio sering menghadiri forum lintas kelompok dengan bahasa yang menenangkan. Tidak provokatif. Tidak juga defensif. Seakan sadar bahwa politik lokal menyimpan memori panjang.
“Memori, seperti kita tahu, tak mudah dihapus. Ia menempel pada cerita keluarga, pada pilihan yang diwariskan, pada kebanggaan yang dijaga. Maka memimpin Situbondo bukan sekadar mengelola APBD, melainkan juga mengelola perasaan,” kata Hari.
Di titik ini, Hari teringat kembali pada sebuah kalimat di dalam mobil itu. Tentang uang, tentang motivasi. Korupsi di daerah bukanlah dongeng. Banyak contoh menunjukkan bagaimana niat awal yang baik dapat tergerus oleh sistem dan berbagai godaan kekuasaan.
Setahun ini, setidaknya hingga opini ini ditulis, tak ada kabar tentang skandal yang mencederai komitmen moral Mas Rio. Itu bukan prestasi spektakuler, mungkin. Tapi dalam politik, ketahanan untuk tidak menyimpang adalah capaian sunyi.
Mas Rio pernah menyampaikan bahwa jabatan adalah tempat untuk mengabdi. Istilah “medan” menggambarkan bahwa posisi itu menuntut kerja keras dan tanggung jawab, bukan sekadar panggung untuk mencari kehormatan.
“Saya melihat Mas Rio mencoba menjaga jarak dari euforia berlebihan. Tidak semua kegiatan harus menjadi perayaan. Barangkali ia sadar, harapan masyarakat terlalu mahal untuk ditukar dengan seremoni,” ucap Hari.
“Tentu, kritik tetap ada. Selalu ada yang merasa pembangunan belum merata. Ada yang menganggap ritme perubahan terlalu lambat. Tapi perubahan sosial jarang bekerja seperti kilat. Ia lebih sering seperti air yang menetes, perlahan tapi konsisten,” imbuhnya.
Bagi Hari, dalam setahun kepemimpinan Mas Rio, yang paling terasa bukan lompatan besar, melainkan atmosfer yang lebih teduh. Setidaknya, rivalitas politik tak lagi setegang dulu.
PKB dan PPP yang dulu kerap berseberangan kini duduk dalam satu meja kekuasaan. Politik memang tak pernah mengenal sesuatu yang benar-benar abadi. Namun simbol persatuan itu tetap memiliki arti penting ketimbang hanya mencicip kue-kue kekuasaan.
“Saya membayangkan kembali Senayan, sore yang macet di mobil itu. Andai waktu bisa diputar, mungkin saya tak lagi terlalu skeptis. Sebab kalimat yang terdengar sederhana itu kini menemukan konteksnya. Ia tidak sekadar retorika kampanye,” ucap Hari.
Setahun memang terlalu singkat bagi Hari untuk menilai seluruh arah kepemimpinan. Tapi cukup untuk membaca konsistensi awal. Mas Rio tampak berusaha menjaga niatnya tetap utuh, yakni menyatukan, bukan memecah.
Mas Rio mungkin tahu, warisan terbaik seorang bupati bukan hanya gedung atau jalan, melainkan rasa saling percaya. Kepercayaan adalah mata uang yang tak tercatat di neraca keuangan dan tanpanya, pembangunan mudah retak.
Hari mengatakan, di Situbondo, tanah yang kondang dengan tradisi pesantren itu, kepemimpinan selalu diukur bukan hanya oleh capaian fisik, tapi juga akhlak publik. Dan akhlak publik, seperti niat, diuji setiap hari.
“Saya tak tahu bagaimana lima tahun ini akan berakhir. Politik selalu menyimpan kemungkinan tak terduga. Namun untuk saat ini, saya memilih mengingat satu hal sebuah mobil yang melaju pelan di tengah hiruk-pikuk ibu kota, dan seorang lelaki yang berkata ia tak butuh jabatan untuk menjadi kaya,” tuturnya.
“Kalimat itu kini berusia lebih dari setahun dalam praktik kekuasaan. Dan saya, yang dulu tersentak oleh kesederhanaannya, memastikan diri jika Mas Rio tetap setia pada nada datar yang jujur itu—nada yang, dalam politik kita yang riuh, justru terdengar paling langka,” sambung Hari Wibowo, menutup refleksinya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




