https://situbondo.times.co.id/
Berita

Kiai Bekat, Petapa Situbondo yang Memiliki Karomah Mengeluarkan Air dari Batu

Minggu, 04 Januari 2026 - 15:11
Kiai Bekat Situbondo, Petapa dengan Karomah Mengeluarkan Air dari Batu Suasana saat peziarah mengunjungi makam Kiai Bekat Situbondo. (FOTO: Ferry Hamid)

TIMES SITUBONDO, SITUBONDO – Di Krajan Barat, Dusun Kukusan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, sebuah makam sederhana terus didatangi peziarah dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Di dekat makam itu, sebuah batu memancarkan air yang tak pernah kering. Bagi masyarakat setempat, tempat ini bukan sekadar lokasi ziarah, melainkan simpul ingatan tentang sosok Kiai Bekat, ulama kharismatik yang juga dikenal sebagai Kiai Tapa.

Haji Iqbal, cucu langsung Kiai Bekat, menuturkan bahwa kisah hidup sang kakek adalah kisah perjalanan spiritual panjang dan pencarian ilmu. Salah satu cerita penting dalam hidup Kiai Bekat adalah pengembaraannya menuntut ilmu hingga ke Bangkalan, Madura.

“Kakek saya pernah ikut truk Belanda sampai ke Gresik, lalu melanjutkan perjalanan ke Bangkalan. Di sanalah beliau mondok kepada Syaikhona Kholil Bangkalan,” ujar Haji Iqbal, Minggu (04/01/2026).

makam-Kiai-Bekat-Situbondo-a.jpg

Menurutnya, Kiai Bekat menjalani masa mondok dan tirakat dengan sungguh-sungguh. Ilmu yang beliau miliki kelak diyakini masyarakat bersumber dari tempaan spiritual dan keilmuan selama berguru kepada Syaikhona Kholil, salah satu ulama besar Madura yang jejak keilmuannya melahirkan banyak tokoh penting Nusantara.

Setelah bertahun-tahun menimba ilmu, Kiai Bekat pulang ke Situbondo pada usia 39 tahun. Sejak saat itu, ia mulai dikenal luas oleh masyarakat sekitar. Laku hidupnya yang sederhana, kecenderungannya pada tirakat, serta kebiasaannya bersemedi membuatnya dijuluki Kiai Tapa.

Jejak semedi itulah yang kemudian melahirkan kisah karomah yang hingga kini terus hidup dalam keyakinan masyarakat. Di area sekitar makam Kiai Bekat terdapat sebuah batu yang mengeluarkan sumber air. Haji Iqbal menjelaskan, awalnya batu tersebut sama sekali tidak mengeluarkan air.

“Dulu kalau butuh air, harus dibawa dari bawah. Karena kakek sering bersemedi di situ, lama-lama air itu keluar dari batu. Orang-orang menyebutnya karomah,” tuturnya.

Air dari batu tersebut diyakini memiliki keistimewaan. Banyak peziarah datang dengan harapan kesembuhan dari berbagai penyakit, baik fisik maupun batin. Menariknya, menurut cerita para peziarah, rasa air itu tidak sama bagi setiap orang.

“Airnya bisa terasa berbeda-beda. Itu tergantung kondisi spiritual masing-masing orang,” kata Haji Iqbal.

Keyakinan inilah yang membuat kawasan makam Kiai Bekat hampir tak pernah sepi. Setiap Jumat Manis, jumlah peziarah meningkat drastis. Rombongan datang secara berkelompok, bahkan kerap mencapai sekitar seratus orang dalam satu kali kunjungan.

“Banyak yang datang dari Situbondo sendiri, juga dari Bondowoso dan daerah sekitarnya. Aktivitasnya doa-doa’, ziarah, dan mengambil air dari sumber,” jelasnya.

Tak hanya itu, hampir setiap malam Jumat selalu ada peziarah yang bermalam di area makam. Tradisi bermalam ini diyakini sebagai bentuk tirakat, mengikuti laku spiritual yang dahulu dijalani Kiai Bekat semasa hidup.

Semasa hidupnya, Kiai Bekat dikenal sebagai tempat bergantung masyarakat. Banyak orang datang kepadanya untuk meminta doa, pertolongan atas kesulitan hidup, hingga pengobatan berbagai penyakit. Peran sosial dan spiritual itulah yang membuat makam beliau kemudian dikeramatkan oleh masyarakat.

“Dari dulu, waktu masih hidup, beliau sering didatangi orang-orang karena bisa membantu kebutuhan mereka, baik urusan batin maupun sakit,” ujar Haji Iqbal.

Menariknya, peziarah ke makam Kiai Bekat tidak hanya berasal dari dalam negeri. Haji Iqbal menyebutkan, ada pula pengunjung dari Belanda dan beberapa negara lain yang datang secara khusus untuk berziarah dan mengenal kisah sang Kiai Tapa dari Situbondo.

Kisah Kiai Bekat tetap hidup sebagai penanda bahwa spiritualitas lokal memiliki daya ikat yang kuat. Makam sederhana, batu yang memancarkan air.

“Tradisi ziarah yang terus berlangsung menjadi saksi bahwa pengabdian tulus pada umat mampu meninggalkan jejak panjang melampaui ruang, waktu, dan generasi,” pungkasnya. (*)

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Situbondo just now

Welcome to TIMES Situbondo

TIMES Situbondo is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.